Agar Masyarakat Lebih Sadar akan Potensi Pangan Lokal

Featured Image

Pentingnya Mengenal dan Mengonsumsi Pangan Lokal di Indonesia

Di tengah kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia, penting bagi masyarakat untuk lebih memahami dan menggali potensi pangan lokal yang ada di sekitar mereka. Direktur Penganekaragaman Konsumi Pangan Rinna Syawal menyampaikan bahwa potensi pangan lokal Indonesia sangat luar biasa, mulai dari sumber karbohidrat hingga protein nabati dan hewani yang melimpah.

Namun, sayangnya, konsumsi protein yang umum dilakukan oleh masyarakat Indonesia masih terbatas pada jenis-jenis tertentu seperti sapi, kambing, ikan, atau ayam. Rinna berharap masyarakat lebih aktif dalam mengeksplorasi pangan lokal di daerah masing-masing, dengan prinsip utama bahwa pangan lokal tidak bertentangan dengan budaya dan keyakinan setempat.

Ciri-Ciri Pangan Lokal

Pangan lokal memiliki tiga ciri utama:

  1. Diproduksi dan tersedia di wilayah setempat
  2. Dikonsumsi secara nyata oleh masyarakat secara turun temurun
  3. Tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya setempat

Contohnya adalah ulat sagu, yang mungkin terasa aneh bagi masyarakat pulau Jawa, namun menjadi bagian dari makanan tradisional bagi masyarakat Papua, Maluku, Sulawesi Tengah, Kalimantan Barat (suku Dayak), Kalimantan Tengah, Jambi, Sumatera Barat (Mentawai), dan Riau pesisir. Mereka mengonsumsinya dengan cara dibakar, ditumis, atau bahkan mentah.

Kekayaan Sumber Pangan Indonesia

Indonesia dianugerahi kekayaan pangan yang sangat melimpah. Terdapat 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, 77 jenis tanaman pangan sumber karbohidrat, 75 jenis pangan sumber protein, 40 jenis bahan minuman, 110 jenis rempah dan bumbu, serta 26 jenis kacang-kacangan yang tumbuh subur di berbagai daerah.

Secara umum, konsumsi protein terbesar di Indonesia berasal dari padi-padian sebanyak 42,8 persen, diikuti oleh protein hewani sebesar 36,5 persen, dan kacang-kacangan sebesar 10,8 persen.

Cara Mengenalkan Pangan Lokal

Salah satu cara termudah untuk mengenalkan pangan lokal adalah melalui program makanan gratis. Dalam penyajian menu untuk anak-anak, disarankan menggunakan pilihan pangan lokal dari masing-masing daerah. Selain itu, pengenalan pangan lokal juga sudah mulai dilakukan di beberapa sekolah melalui mata pelajaran spesifik dan muatan lokal.

Tujuannya adalah agar generasi muda dapat lebih mengenal dan akhirnya mengonsumsi pangan lokal. Dari segi ekonomi, mengonsumsi pangan lokal membantu menghidupkan perekonomian daerah, karena para petani bisa lebih mandiri dalam menjual hasil pertanian mereka. Harga yang ditawarkan di pasar juga cenderung lebih terjangkau.

Manfaat Pangan Lokal

Selain manfaat ekonomi, pangan lokal juga memberikan manfaat lain, seperti:

  • Keberlanjutan lingkungan: Mengurangi emisi karbon karena distribusi makanan tidak membutuhkan transportasi jarak jauh.
  • Keamanan pangan: Lebih aman dari cemaran fisik, kimia, dan biologi, serta mudah ditelusuri proses pembuatannya.
  • Kesehatan: Pangan lokal biasanya lebih segar dan bergizi.
  • Melestarikan budaya: Membantu menjaga keberlangsungan kuliner lokal dan budaya yang terkait dengannya.
  • Nasionalisme dan ketahanan pangan: Meningkatkan kedaulatan dan kemandirian pangan nasional.

Peran Pemerintah Daerah

Untuk meningkatkan konsumsi pangan lokal, Rinna mengimbau pemerintah daerah, baik bupati maupun walikota, untuk memetakan potensi pangan di masing-masing wilayah. Hal ini penting karena pangan lokal bersifat spesifik dan harus sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing.

Ketua Panitia Ilmiah Nasional Persagii 2025, Marudut Sitompul, menambahkan bahwa forum ini bertujuan untuk menyatukan para ahli gizi, pemerintah, industri pangan, organisasi kesehatan, dan mahasiswa. Berbagai praktik baik di bidang gizi dan nutrisi akan dibagikan untuk mendukung program pemerintah Makan Bergizi Gratis.

Marudut juga setuju dengan pendapat Rinna bahwa perlu adanya dorongan nasional untuk menggaungkan konsumsi pangan lokal. Ia menegaskan bahwa masyarakat lokal tidak perlu dipaksa untuk menyeragamkan makanan harian mereka dengan makanan daerah lain. Misalnya, masyarakat Papua tidak perlu dipaksa untuk makan nasi jika mereka terbiasa dengan papeda.

Penelitian dan Pengembangan Pangan Lokal

Marudut saat ini sedang melakukan penelitian tentang bagaimana singkong, ubi ungu, dan ubi kimpul bisa menjadi pengganti nasi. Menurutnya, Indonesia memiliki banyak sumber daya umbi-umbian, tetapi cara mengonsumsinya masih tergolong sederhana, seperti hanya direbus atau digoreng.

Sayangnya, konsumsi ubi dengan cara direbus saja kurang diminati oleh masyarakat, terutama kalangan muda. Dalam riset bimbingannya, ia menemukan bahwa singkong yang diproses dan dikonsumsi dengan menu lainnya lebih diterima oleh masyarakat. Proses ini terus dikembangkan dengan harapan tingkat konsumsi umbi-umbian di Indonesia semakin meningkat, serta harga singkong bisa lebih meningkat.

Lebih baru Lebih lama